Hi masih di #coupleseries bahasan minggu ini oleh @ghitajayta, sebagai financial planner plus pengamat a.k.a stalker juga (maksudnya mengamati kondisi keuangan klien) @ghitajayta menemukan banyak fenomena gaji istri lebih besar daripada suami, pertanyaannya adalah “emang masalah?”

Financial Planning (FP) is 70% psychology and 30% is economic. Program FP sebagus apapun gak akan berhasil jika tidak didukung mindset yang benar mengenai konsep uang dan kesejahteraan. Proporsi gaji suami-istri adalah bagian dari FP, maka ini bergantung pada mindset masing-masing pasangan, kalau pada budaya barat memandang hal ini sih sudah biasa saja ya, tapi lain halnya dalam budaya kita, yang masih banyak banget yang menjadikan ini sebagai sumber konflik, karena tanggung jawab finansial yang ideal masih berada di tangan suami.

Untuk para suami, kalau anda memiliki kondisi finansial rumah tangga seperti ini; gaji istri anda lebih besar dari anda, jangan berpikir this is the end of your pride! Tapi percaya deh, banyak sekali pasangan yang berhasil membangun keuangan rumah tangganya dengan kondisi sang suami pendapatannya lebih kecil atau bahkan jauh lebih kecil dari sang istri, lalu bagaimana cara mereka berhasil?

1.   Talk

Bicarakan visi rumah tangga, apa yang ingin dicapai bersama, bagaimana bentuk rumah tangga yang diinginkan, bagaimana anak-anak ingin diberikan pendidikan. Ini mempengaruhi gaya hidup, dan tentunya bagaimana uang akan dikelola.

2.  Plan

Coba rencanakan bersama, tujuan keuangan apa yang ingin dicapai dalam jangka waktu pendek, menengah atau panjang. Suami dapat mengambil alih pemenuhan kebutuhan rencana jangka panjang yang pastinya nominalnya akan lebih kecil (karena jangka waktu investasinya masih panjang) dan istri yang mengambil alih investasi jangka pendek atau menengah yang nominalnya lebih besar.

3.  Proportion

Perlu dibicarakan proporsi yang sama-sama membuat nyaman. Ada contoh kasus yang sang suami mengambil alih secara penuh post primer, dan kewajiban-kewajiban terhadap anak. Sedangkan sang istri cukup memikirkan post sekunder seperti biaya liburan dan hiburan keluarga, juga investasi jangka pendek.

Setelah saya amati, dan menjadi kunci bagi pembuatan perencanaan keuangan, pembagian peran adalah hal yang harus difokuskan, bukan besaran nominal gaji. Saya melihat ini sebagai ide bagus karena sang suami akan memiliki kepercayaan diri karena dia masih bertanggung jawab atas post primer dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam keluarga.

Pikirkanlah bahwa gaji perlu dikelola untuk mencapai tujuan bersama, memenuhi kebutuhan bersama, membantu pihak-pihak yang perlu dibantu dan tabungan bersama untuk masa depan dan ketika sudah sama-sama tidak bekerja lagi nantinya.

Tetap berbagi peran walau sekecil apapun itu, berikan tanggung jawab kepada suami untuk memikul tanggung jawab yang dapat ia jalankan, seperti misalnya tetap menjadi tanggung jawabnya bayar listrik (walaupun dia akan ngomel kalau AC dinyalakan seharian :p),  PAM, uang jajan anak, atau bahkan hanya uang jemputannya. Jangan lupa untuk selalu berdiskusi mengenai rencana finansial rumah tangga walaupun kontribusi nya pasti berasal dari anda sebagai istri. Tunjukkan sikap seorang istri yang menghargai kerja keras suami, dan seorang suami yang mendukung istri melakukan hal positif.

Ada ide tambahan juga nih, coba deh buka rekening khusus operasional rumah tangga. Suami maupun istri sama-sama mengisinya, jadi diharapkan suami-istri memiliki nilai setara dalam kontribusi.

griffin-jennifer-5