Bicara Finansial Yuk Dengan Pasangan!

unnamed-1

As a family, money is a big part of our daily life since we’re not only think about ourselves but we also have to think (and plan) for our spouse and kids.  That’s why we are sooo excited to welcome Ghita in our blog.   Ghita is an independent financial adviser and she will share some of her tips and trick  about finance.  Check out her detailed profile below.  

Menurut kamu hal yang paling tabu dan gengges banget dibicarakan di ruang publik tuh apa sih? Agama, politik, keluarga, atau sex? Eits tapi banyak kok orang yang sharing pendapatnya, bahkan berdebat di social media tentang hal-hal tersebut, dan ternyata bukan hal-hal SARA yang paling sulit untuk dibicarakan bahkan dengan pasangan, surpriseee! yess ternyata uang.

Pentingnya apa sih ngomongin uang kok serius banget? let it flow aja selama ini juga baik baik aja tuh. Tahukah kamu bahwa uang atau ekonomilah yang menjadi penyebab utama meningkatnya angka perceraian di kota besar. Ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi rumah tangga, impian dan tujuan tujuan hidup yang tidak bisa dicapai karena terkendala uang.

Anehnya banyak banget nih kita-kita pasangan muda yang lebih senang berbicara serius bangettt tentang hal romantis ketimbang hal-hal praktis yang sebenarnya mandatory harus dilakukan dalam rumah tangga, seperti bagaimana mengatur keuangan.

Loh, apalagi sih yang kurang? Saya sebagai suami setiap bulan sudah kasih nafkah dan bulanan untuk rumah tangga kok, diatur istri semuanya? nah banyak tuh suami yang pasti akan bilang begitu atau istri-istri jaman sekarang banyak juga yang punya prinsip, gak mau bergantung secara ekonomi sama suami, jadi kalo ada kebutuhan rumah tangga yang bisa dipenuhi sendiri, why not?

Secara kasat matanya sepertinya semua sudah berjalan seperti seharusnya sih, tapi coba nih buat para suami yang sudah melakukan tugasnya, pernah nanya gak sama istri apakah cukup uang yang diberikan? Atau cukup tapi untuk hal primer saja, sehingga sang istri sebenernya pengen juga agak bersenang-senang dengan uang tersebut, tapi ternyata gak bisa? Artinya bukan cukup tapi sudah puaskah istri dengan kondisi keuangan tersebut?

Nah buat para istri yang independent nih, pernah gak nanya ke suami apakah mereka nyaman dengan independensi kita? Karena pada dasarnya laki-laki selalu ingin jadi hero dan dibutuhkan oleh keluarga.

Coba deh kita cek, apakah pernah mencoba berbicara hal-hal berikut :

Apakah kamu berdua mengetahui berapa pendapatan masing-masing?

Penting banget untuk terbuka tentang hal ini, karena dengan kita mengetahui kondisi angka yang sebenar-benarnya kita tau secara pasti kondisi keuangan rumah tangga kita, pemahaman terhadap pasangan pun dapat diciptakan dan menghindari salah paham. Jika kita gak tau berapa sebenarnya penghasilan pasangan, kita mungkin akan  terbersit curiga, atau jika mau melakukan sesuatu yang membutuhkan dana, dan kita harus meminta kontribusi pasangan, eh ternyata pasangan jawab uangnya sudah habis, biasanya kita akan bilang “kemana aja sih uang kok cepet banget habis”, coba kalau kita tau berapa pendapatan dia sebenarnya, terus kita cek dan ricek ke cashflow bareng-bareng, kita kan lebih mudah menerima.

Apakah kamu pernah membicarakan kendala ekonomi yang dihadapi, termaksud masalah finansial pribadi?

Misalnya :

Penghasilan bersama gak cukup untuk membiayai operasional rumah tangga, kebanyakan nih entah suaminya atau istrinya jadi berhutang untuk menambal biaya hidup yang tidak dikurangi, bukan tidak bisa dikurangi tapi karena tidak pernah diskusi bagaimana cara menguranginya. Ujung-ujungnya menimbulkan konflik baru. Atau misalnya suami gak tau kalau sebenarnya sang istri masih harus bertanggung jawab atas biaya hidup orang tuanya, sehingga istri sangat berharap bahwa kontribusi suami terhadap biaya operasional rumah tangga bisa lebih besar atau sepenuhnya, ini sumber konflik loh kalau gak diobrolin.

Apakah pernah membicarakan tentang mimpi kalian berdua?

Misalnya :

Mimpi seperti mau punya rumah dimana dan seperti apa, atau anak mau sekolah dimana, atau sesederhana cita-cita ingin liburan kemana, ada loh pasangan yang bertahun-tahun menikah gak pernah liburan karena memang suaminya kurang suka jalan-jalan, dan berhemat banget, tapi sebenarnya sang istri pengen banget jalan-jalan, tapi karena in the name of pengertian si istri gak pernah tuh minta sama suaminya, padahal setiap kali liat socmed, teman-temanya travelling dengan pasangan dia sedih karena mau juga melakukan hal tersebut. Loh salah siapa gak pernah ngomong?

Ceklist nya cukup 3 dulu,  turunan lainnya yang sebaiknya dilakukan oleh suami istri dalam membangun pondasi  finansial rumah tangga yang bisa kamu lakukan nih :

1.   Bicarakan tentang pemasukan dan pengeluaran bulanan

Diskusikan bagaimana mengatur dan strateginya, agar cukup dan memuaskan. Kita perlu banget melakukan review bulanan apakah sudah in line dengan perencanaan, membuat adjustment  bersama jika ada kondisi yang diluar kebiasaan (mis : orang tua sakit, saudara pinjam uang) . Mungkin ini akan membosankan, butuh menyisihkan waktu dan perlu banget menjauhkan sikap saling meyalahkan dan malu mengungkapkan.

2.   Keluarkanlah uang berdasarkan budget

Perlakukan semua kebutuhan dan keinginan kita seperti tagihan dan cicilan Bank, yang sudah ditetapkan dari awal.

3.   Jika masing-masing memiliki penghasilan

Idealnya masing-masing menyisihkan 50% untuk kebutuhan bersama dalam rumah tangga, atau dalam budaya timur biasanya laki-laki bisa mengambil bagian lebih besar.

4.   Buatlah akun bank bersama

Untuk kebutuhan operasional rumah tangga, sehingga masing-masing dapat secara aktif untuk melakukan cek dan ricek. Untuk kebutuhan personal seperti hobi dan belanja pribadi sebaiknya jangan pernah mengambil dari akun ini. Usaakan bahwa kalian berdua punya usaha dan kontribusi untuk mengembangkan aset bersama dan menjaga stabilitas aset.

Coba mulai pahami bahwa masing-masing orang memiliki latar belakang yang berbeda, bagaimana kebiasaan keluarga terhadap uang, pahami dan terima lah itu sebagai kekuatan dan kelemahan. Mungkin pasangan kita berasal dari keluarga dimana sang ayah adalah pengambil keputusan keuangan sehingga jika dia suami mungkin dia ingin berperan dominan seperti itu, atau jika dia istri dia ingin suaminya melakukan hal yang sama dengan sang ayah. Atau sebaliknya, pasangan kita berasal dari keluarga yang memisahkan harta ayah dan ibunya , sehingga jika dia suami mungkin terlihat agak cuek dengan kebutuhan istri atau jika dia istri akan terlihat terlalu independent. Kuncinya hanya bicara dan diskusikan, beda gaya bukan berarti tidak bisa bekerjasama, jangan merasa malu, dan jangan menyalahkan.

Gak ada kata terlambat untuk memulai mengatur keuangan bersama, merencanakan dana pendidikan anak, dan bagaimana memulai investasi. Berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk berhutang, walaupun hanya berhutang sesederhana cicilan handphone 0% untuk 12 bulan, karena itu artinya memulai Bad money habbit.

Yuk mulai bicarakan finansial dengan pasangan!

 

griffin-jennifer-5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s